omahkecebong

Aktivitas

omahkecebong

BER Gerobag Sapi

BER Gerobag Sapi

Mengenal Gerobak Sapi

Di Indonesia, gerobak dapat ditarik oleh sapi, dan dikenal dengan nama pedati atau “CIKAR”. Sapi yang menarik gerobak tersebut disebut dengan “SAPI PAJIKARAN”. Pada zaman Hindia Belanda, gerobak sapi dikenali dengan nama “OXENCAR”, sedangkan orang yang mengendarai gerobak sapi dikenal dengan nama “BAJINGAN”. Gerobak sapi umum digunakan oleh penduduk setempat untuk mengangkut hasil pertanian dari satu daerah ke daerah lain.

Bajingan dalam bahasa Jawa berarti pekerjaan pengemudi gerobak sapi. Gerobak sapi dulu merupakan sarana transportasi masyakarat ketika belum banyak angkutan kendaraan bermotor. Gerobak sapi dan kuda atau andong menjadi sarana transportasi warga. Kalau kusir atau pengemudi andong, dokar atau bendi disebut kusir. Sedangkan pengemudi gerobak disebut bajingan.

Seorang bajingan dulu sangat berjasa bagi seorang lurah, penemu untuk mengangkut berbagai hasil bumi yang ditarik oleh sapi. Hari ini, saat seseorang melontarkan kata ‘bajingan’, tentunya akan berkonotasi negatif. Padahal, dilihat dari akar historisnya, bajingan adalah profesi yang umum bagi masyarakat Jawa dan telah eksis sejak era kekuasaan Mataram Islam di Indonesia pada abad ke-16 M. Sejak dulu, profesi ini memegang erat kekerabatan dan kerukunan yang diwadahi oleh paguyuban penarik gerobak sapi atau bajingan.

” BAGUSING JIWA ANGEN-ANGENING PANGERAN “
yang artinya orang baik yang dicintai Tuhan

Aktivitas BER Gerobak Sapi bersama Omah Kecebong

Perjalanan akan dimulai dari Omah kecebong, rute dapat dimulai dari pintu depan atau area parkir belakang. Jika dari pintu depan maka awal perjalan anda dapat melewati area “Bulak Kaweden” (Lorong Hutan), disepanjang jalan anda akan melihat “Burung Kuntul” yang sedang bermigrasi karena Australia sedang musim dingin. Mereka bertengger disepanjang dahan pohon dan berkembang biak Awal mula burung kuntul ini datang sejak peresmian Gapura oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1997. Perjalan berlanjut hingga anda sampai di “Jembatan Gombang” yang membelah “Selokan Mataram”.

“Selokan Mataram” merupakan Saluran Irigasi yang dibangun pada masa penjajahan Jepang tahun 1944 merupakan wujud nyata seorang raja dalam menyelamatkan sekaligus menyejahterakan rakyatnya. Pasalnya, Raja Mataram Islam yang bertakhta saat itu, Sri Sultan HB IX selain berhasil membujuk Jepang untuk membangun saluran irigasi agar dapat mengaliri areal pertanian dan daerah tandus untuk meningkatkan hasil panen, juga membebaskan rakyat Yogyakarta dari kerja paksa (Romusha).

Anda akan dibawa menyusuri selokan mataram hingga “Jembatan Rajek “. Kemudian anda akan melihat disepanjang jalan persawahan dan para petani yang sedang bertani/ngluku. Jika anda beruntung, anda dapat melihat juga atau turun untuk membantu para petani memanen hasil bumi. Perjalanpun berakhir di Omah kecebong, sebelum turun anda dapat bercengkarama dengan “Bajingan” dan Sapi mereka. Semua perjalanan tadi akan diabadikan oleh para photographer Omah Kecebong. Jadi jangan khawatir, momen-momen anda akan terabadikan dengan sempurna.